Lingkungan Fisik dan Ergonomi
NAMA KELOMPOK :
Muh. Al Asri (201931003)
Salsabila Atika Yunus (201931004)
Salsabila Hadis Sudjarwo (201931005)
Muhammad Fauzan Azhar (201931006)
Fadma Ayu Abella (201931007)
1. Sejarah Ergonomi
Ergonomi dipopulerkan pertama kali pada tahun 1949 sebagai judul buku
yang dikarang oleh Prof. Murrel. Istilah ergonomi digunakan secara luas di
Eropa. Di Amerika Serikat dikenal istilah human factoratau human
engineering. Kedua istilah tersebut (ergonomi dan human factor) hanya
berbeda pada penekanannya. Intinya kedua kata tersebut sama-sama menekankan
pada performansi dan perilaku manusia. Menurut Hawkins (1987), untuk mencapai
tujuan praktisnya, keduanya dapat digunakan sebagai referensi untuk teknologi yang
sama.
Ergonomi telah menjadi bagian dari perkembangan budaya manusia sejak
4000 tahun yang lalu. Perkembangan ilmu ergonomi dimulai saat manusia merancang
benda-benda sederhana, seperti batu untuk membantu tangan dalam melakukan
pekerjaannya, sampai dilakukannya perbaikan atau perubahan pada alat bantu
tersebut untuk memudahkan penggunanya. Pada awalnya perkembangan tersebut masih
tidak teratur dan tidak terarah, bahkan kadang-kadang terjadi secara kebetulan.
Perkembangan ergonomi modern dimulai kurang lebih seratus tahun yang
lalu pada saat Taylor (1880-an) dan Gilberth (1890-an) secara terpisah
melakukan studi tentang waktu dan gerakan. Penggunaan ergonomi secara nyata
dimulai pada Perang Dunia I untuk mengoptimasikan interaksi antara produk
dengan manusia.
Pada tahun 1924 sampai 1930 Hawthorne Works of Wertern
Electric(Amerika) melakukan suatu percobaan tentang ergonomi yang selanjutnya
dikenal dengan “Hawthorne Effects” (Efek Hawthorne). Hasil percobaan ini
memberikan konsep baru tentang motivasi di tempat kerja dan menunjukan hubungan
fisik dan langsung antara manusia dan mesin.
Kemajuan ergonomi semakin terasa setelah Perang Dunia II dengan adanya
bukti nyata bahwa penggunaan peralatan yang sesuai dapat meningkatkan kemauan
manusia untuk bekerja lebih efektif. Hal tersebut banyak dilakukan pada
perusahaan-perusahaan senjata perang.
2. Ruang Lingkup Ergonomi
Ergonomi adalah ilmu dari pembelajaran multidisiplin ilmu lain yang
menjembatani beberapa disiplin ilmu dan professional, serta merangkum
informasi, temuan, dan prinsip dari masing-masing keilmuan tersebut. Keilmuan
yang dimaksud antara lain ilmu faal, anatomi, psikologi, fisika, dan teknik.
Ilmu faal dan anatomi memberikan gambaran bentuk tubuh manusia,
kemampuan tubuh atau anggota gerak untuk mengangkat atau ketahanan terhadap
suatu gaya yang diterimanya. Ilmu psikologi faal memberikan gambaran terhadap
fungsi otak dan sistem persyarafan dalam kaitannya dengan tingkah laku,
sementara eksperimental mencoba memahami suatu cara bagaimana mengambil sikap,
memahami, mempelajari, mengingat, serta mengendalikan proses motorik. Sedangkan
ilmu fisika dan teknik memberikan informasi yang sama untuk desain lingkungan
kerja dimana pekerja terlibat.
Kesatuan data dari beberapa bidang keilmuan tersebut, dalam ergonomi
dipergunakan untuk memaksimalkan keselamatan kerja, efisiensi, dan kepercayaan
diri pekerja sehingga dapat mempermudah pengenalan dan pemahaman terhadap tugas
yang diberikan serta untuk meningkatkan kenyamanan dan kepuasan pekerja.
3.
Pendekatan Ergonomi Dalam Perancangan
Stasiun Kerja
Berkaitan
dengan perancangan areal atau stasiun kerja dalam suatu rancangan industri,
menurut (Wignjosoebroto, 2003), ada beberapa aspek ergonomis yang harus
dipertimbangkan sebagai berikut:
Sikap
dan posisi kerja
Pertimbangan
ergonomis yang berkaitan dengan sikap atau posisi kerja sangat penting, tidak
peduli apakah pekerjaan tersebut dilakukan dengan posisi kerja berdiri, duduk,
atau posisi kerja yang lainnya. Beberapa pertimbangan-pertimbangan ergonomis
antara lain menyarankan hal-hal sebagai berikut:
Antropometri
dan mengurangi keharusan operator untuk bekerja dengan sikap membungkuk dengan
frekuensi kegiatan yang sering atau dalam jangka waktu lama. Untuk mengatasi
hal ini maka stasiun kerja harus dirancang dengan mempertimbangkan fasilitas
kerja seperti meja, kursi, dan lain-lain yang sesuai dengan data antropometri.
Hal ini agar operator dapat menjaga sikap dan posisi kerjanya tetap normal.
Operator
tidak seharusnya menggunakan jarak jangkauan maksimum yang bisa dilakukan.
Pengaturan posisi kerja dalam hal ini dilakukan dalam jarak jangkauan normal.
Operator
tidak seharusnya duduk atau berdiri pada saat bekerja untuk waktu yang lama
dengan kepala, leher, dada atau kaki berada pada posisi miring, sedapat mungkin
menghindari cara kerja yang memaksa operator harus bekerja dengan posisi
terlentang dan tengkurap.
Operator
tidak seharusnya dipaksa dalam frekuensi atau periode waktu yang lama dengan tangan
atau lengan berada dalam posisi diatas level siku normal.
Dimensi
Ruang Kerja
Antropometri
pada dasarnya akan menyangkut ukuran fisik atau fungsi dari tubuh manusia
termasuk disini adalah ukuran linier, berat, volume, ruang gerak, dan
lain-lain.
Persyaratan
ergonomis mensyaratkan supaya peralatan dan fasilitas kerja sesuai dengan orang
yang menggunakannya, khususnya menyangkut dimensi ukuran tubuh.
Dalam
memperhatikan dimensi ruang kerja perlu diperhatikan antara lain jarak jangkau
yang bisa dilakukan oleh perator, batasan-batasan ruang yang enak cukup
memberikan keleluasaan gerak operator dan kebutuhan area minimum yang harus
dipenuhi untuk kegiatan-kegiatan tertentu.
Kondisi
Lingkungan Kerja
Operator
diharapkan mampu beradaptasi dengan situasi dan kondisi lingkungan fisik kerja
yang bervariasi dalam hal temperature, kelembaban, getaran, kebisingan dan
lain-lain
Adanya
lingkungan fisik kerja yang bising, panas bergetar atau atmosfir yang tercemar
akan memberikan dampak negatif terhadap ferforma maupun moral dan motifasi
operator.
Efisiensi
ekonomi gerakan dan pengaturan fasilitas kerja
Perancangan
sistem kerja haruslah mempertimbangkan prosedur-prosedur untuk mengkombinasikan
gerakan-gerakan kerja sehingga dapat memperbaiki efisiensi dan mengurangi kelelahan
kerja. Pertimbangan mengenai prinsip ekonomi gerakan diberikan selama tahap
perancangan sistem kerja dari suatu industi, karena hal ini akan memudahkan
modifikasi yang diperlukan terhadap hard ware, prosedur kerja dan
lain-lain.
Beberapa
ketentuan-ketentuan pokok yang berkaitan dengan prinsip-prinsip ekonomi gerakan
yang perlu dipertimbangkan dalam perancangan stasiun kerja adalah:
Organisasi
fasilitas kerja sehingga operator mudah akan mengetahui lokasi penempatan
material (bahan baku, produk akhir, atau scrap), suku cadang, peralatan
kerja, mekanisme kontrol, display, dan lain-lain.
Buat
rancangan fasilitas kerja (mesin, meja kerja, kursi dan lain-lain) dengan
dimensi yang sesuai dengan antropometri pekerja dalam range 5
persentil sampai 95 persentil. Biasanya untuk merancang lokasi jarak jangkauan
yang akan dipergunakan oleh operator dengan menggunakan jarak jangkauan
persentil terpendek (5 persentil), sedangkan untuk lokasi kerja yang
membutuhkan clearance akan dipergunkan data terbesar (95 persentil)
Atur
pengiriman material ataupun peralatan secara teratur ke stasiun-stasiun kerja
yang membutuhkan. Disini operator tidak seharusnya membuang waktu dan energi
untuk mengambil material atau peralatan kerja yang dibutuhkan
Buat
rancangan kegiatan kerja sedemikian rupa sehingga akan terjadi keseimbangan
kerja antara tangan kiri dan tangan kanan. Diharapkan operator dapat memulai
dan mengakhiri gerakan kedua tangannya secara serentak dan menghindari jangan
sampai kedua tangan menganggur pada saat yang bersamaan.
Atur
tata letak fasilitas pabrik sesuai dengan aliran proses produksi. Caranya
adalah dengan mengatur letak mesin atau fasilitas kerja sesuai dengan aliran
proses yang ada. Hal ini berguna untuk meminimalkan jarak perpindahan material
selama proses produksi berlangsung.
Energi
kerja yang dikonsumsikan
Energi
kerja yang dikonsumsikan pada saat seseorang melakukan kegiatan merupakan salah
satu faktor yang harus diperhatikan. Dengan adanya perancangan kerja seharusnya
dapat menghemat energi yang harus dikonsumsikan. Aplikasi prinsip-prinsip
ekonomi gerakan dalam tahap perancangan dan pengembangan sistem kerja secara
umum akan dapat meminimalakan energi yang harus di konsumsikan dan dapat
meningkatkan efisiensi sehingga bisa meningkatkan output yang
dihasilkan.
4.
Aspek-Aspek Ergonomi Dalam
Perancangan Stasiun Kerja
Kegiatan
manufacturing bisa didefinisikan sebagai suatu unit atau kelompok kerja yang
berkaitan dengan berbagai macam proses kerja untuk merubah bahan baku menjadi
produk akhir yang dikehendaki. Didalam suatu stasiun kerja harus dilakukan
pengaturan kerja komponen-komponen yang terlibat didalam sistem produksi yaitu
menyangkut material (bahan baku, produk jadi, dan scrap), mesin/peralatan
kerja, perkakas pembantu, dan fasilitas penunjang (utilitas), lingkungan fisik
kerja dan manusia pelaksana kerja (operator), dengan pendekatan ergonomi
diharapkan sistem produksi bisa dirancang untuk melaksanakan kegiatan kerja
tertentu dengan didukung keserasian hubungan antara manusia dengan sistem kerja
yang dikendalikannya.
Menurut
(Wignjosoebroto, 2003), ada beberapa aspek yang harus diperhatikan dalam
perancangan stasiun kerja, yaitu:
Aspek
yang menyangkut perbaikan-perbaikan metode atau cara kerja dengan menekankan
prinsip-prinsip ekonomi gerakan
Data-data
mengenai dimensi tubuh manusia yang berguna untuk mencari hubungan keserasian
antara produk dan manusia yang memakainya
Pengaturan
tata letak fasilitas kerja yang perlu dalam melakukan suatu kegiatan. Hal ini
bertujuan untuk mencari gerakan-gerakan kerja yang efisien
Pengukuran
energi yang harus dikeluarkan untuk melaksanakan aktivitas tertentu
Keselamatan
dan kesehatan kerja pada stasiun tersebut
Komentar
Posting Komentar